Selasa, 10 November 2015

Tempat Wisata Populer Kota Solo

Bicara soal SOLO atau SURAKARTA...maka tak bisa dilepaskan dari Objek Wisata. Objek wisata di kota Solo terhitung lebih banyak dan komplet dibandingkan dengan kota-kota lain. Ada objek wisata belanja, ada objek wisata edukasi, ada objek wisata sejarah dll.

Bertraveling ria bareng istri tercinta di kota Solo pun menjadi sarana penghilang jenuh setelah semingguan bekerja. Bagimana dengan Anda tertarikkah dengan wisata kota solo?

Jika Anda tertarik sudilah Anda membaca coretan ringan dari bloger abal-abal asal Ngawi ini.

Berikut Sobat, beberapa objek wisata yang pernah saya kunjungi beserta istri lengkap dengan kupasan singkat tentang tentang tetek bengek objek wisata tersebut, semoga membantu kalian berpiknik ria, setelah lelah bekerja.

Ulasan pertama
Museum Batik Danar Hadi
Bicara  batik, pastilah tak lepas dari nama kota Solo. Bicara masalah batik dan Solo, tak lepas pula dari nama Danar hadi. 

Dari dua chemistri batik solo dan Danarhadi, maka munculah nama Museum Batik Danarhadi. Nama Museum Danarhadi cukup terkenal dikalangan pecinta batik, lebih-lebih ketika Danarhadi dikukuhkan sebagai museum oleh mantan Presiden RI ke empat Megawati Soekarno Putri pada tahun 2002. Museum ini adalah obyek wisata utama di kompleks HDH dan telah dibuka terlebih dahulu pada tahun 2002 oleh Wapres Megawati Soekarnoputri. Museum ini menyimpan koleksi kain batik yang mencapai 10,000 helai dan diakui oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak. Kain batik yang dipajang di museum ini berasal dari periode dan pengaruh kultur serta lingkungan yang berbeda-beda. 

Salah satu koleksi terpenting di museum ini adalah koleksi batik Belanda, yaitu batik yang dipengaruhi oleh budaya Eropa dan dibuat oleh orang-orang Belanda yang menetap di Indonesia pada zaman kolonial. Koleksi kain-kain ini adalah koleksi pribadi dari H. Santosa Doellah, pendiri PT Batik Danar Hadi yang juga merupakan pencetus kompleks HDH. Di belakang Museum terdapat kompleks pabrik batik tulis dan cap yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan.


Okay Sobat, sedikit cerita pengalaman saja Sobat. Kali ini saya sengja ingin mengisahkan sedikit catatan perjalanan ketika memasuki Museum Batik Danar Hadi. 


Memasuki kompleks Museum Batik Danar Hadi saya sedikit bingung mau apa saya di sini. Saya sempat berpikir apa benar ini Museum Batik, yang dikatakan yang terbesar di Indonesia?


Untuk menjawab pertanyaan ini, saya pun memberanikan diri bertanya ke semacam CS nya Danar Hadi yang ada di bagian ruang depan museum. Dari sini saya bertanya banyak dan pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan petualangan saya di Museum Batik ini.


Mengawali perjalanan di Museum Batik Danar Hadi, saya diminta terlebih dahulu mendaftar untuk beli semacam tiket masuk. Awalnya saya menyangka harga tiket akan sama dengan harga tiket dikebanyakan museum, namun taraa,, ternyata apa yang saya sangka salah...


Harga tiket masuk yang saya kira, paling berkisar 10-15 ribu ternyata jauh dari ekspektasi saya, dan betul saja uang warna biru pun akhirnya saya keluarkan untuk membayar tiket masuk untuk dua orang. Ya saya membayar dua tiket, untuk saya sendiri dan istri.


Uang sebesar 50 ribu yang kami keluarkan ternyata tidak sia-sia. Dengan uang 50 ribu kami mendapatkan seorang guide yang cukup lincah dan pandai menerangkan setiap nama, jenis dan karakter setiap jenis batik. Dari Informasi yang saya dapatkan dari guide yang membimbing kami secara Keseluruhan koleksi Batik, Museum Danar Hadi terdiri dari sembilan pemetaan jenis batik . Kesembilan batik tersebut adalah; Batik Belanda, Batik Kraton, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia, serta Batik Danar Hadi.


Menarik memang melihat kain batik dari perspektif sosio kultural dan juga historisnya. Salah satu hal menarik yang saya tangkap adalah ketika saya ditunjukkan corak-corak batik dengan tema eropa. Tema yang saya maksudkan di sini adalah tema yang mengandung cerita rakyat terpopuler di eropa saat itu, yakni kisah "HANZEL AND GRETEL" dan juga kisah "SNOW WHITE atau PUTRI SALJU". Selain batik motif eropa, ada pula batik dengan pola akulturusisasi budaya Jawa dan Tiongkok. Batik motif "MEGA MENDUNG", dengan motif  identik warna jreng cerah, atau pun warna merah merupakan bentuk nyata akulturasi budaya Tiongkok dengan budaya Jawa. Batik dengan akulturasi Jawa-Tiongkok ini banyak kita dapati di daerah pesisir pulau Jawa.



Hal menarik lain di luar batik yang saya  temui di museum ini di antaranya adalah penggunaan bahan-bahan batik yang ternyata sangat beraneka ragam. Tidak hanya bahan malam saja  yang digunakan bahkan kami tahu sendiri ternyata pewarna lam pun dapat digunakan untuk memberikan efek warna pada kain batik. Selain itu di Museum Batik kami juga mendapati ilmu tentang bagaimana cara merawat batik agar awet, eng ing eng,,,saya berpikir kapur barus akan digunakan untuk merawat dan menjaga batik tetap awet, namun sangkaan saya salah...kapur barus justru tidak ada...yang ada justru ada racikan tumbuh-tumbuhan kering sebagai pengganti kapur barus.

Pengawtet Batik Alami

Setelah lelah menikmati beragam koleksi batik, pada akhirnya guide mengantar saya dan istri untuk mengakhiri perjalanan dengan melihat proses produksi batik, yakni mulai dari pembuatan semacam sketsa, proses pewarnaan, pencelupan, dan proses penjemuran di dalam ruangan. Di dalam memproduksi batik ternyata kebanyakan pelakunya adalah ibu-ibu, kecuali pada proses pencelupan, pencapan, dan juga pembuatan skeksa motif.
Proses Produksi Batik Tulis
Proses Penjemuran Batik


Setelah sejaman lelah keliling museum dan bertanya panjang lebar, akhirnya perjalanan kami akhiri. Untuk kenan-kenangan Anda bisa membeli beragam batik koleksi Danar Hadi atau merchendise yang ada di bagian front musem. Perlu diingat untuk membeli batik koleksi di sini silakan siapkan anggaran yang agak lebih sebab memang Danar Hadi terkenal dengan kualitas batik yang wah...dan begitupula dengan harganya.


Postingan berikutnya...........Jalan-jalan ke Pasar Triwindu






1 komentar:

Suciana Dwi mengatakan...

kapan kesana lagi he