Rabu, 09 November 2011

Impor Bahasa Suatu Realita “Asal-usul Kosakata Bahasa Indonesia”


Pernahkah Anda berpikir dari mana asal kosakata bahasa Indonesia yang selama ini Anda gunakan. Mungkin di dalam pikiran Anda akan bergumam “kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu”, namun bebarapa orang Jawa akan mengatakan “ tidak, kosakata bahasa Indonesia berasal dari Jawa”. Mungkin orang yang kebetulan berasal dari rumpun etnis melayu akan mengatakan “lihatlah buktinya banyak karya-karya sastra pujangga zaman dahulu menggunakan bahasa melayu yang strukturnya mirip dengan bahasa Indonesia sekarang ini”, orang Jawa pun menimpali, membalas ucapan orang etnis melayu tadi, “ ah masak, sekarang kalian perhatikan juga berapa banyak kosakata bahasa Jawa yang masuk dalam kosakata bahasa Indonesia, serkarang perhatikan contoh yang saya utarakan :

Kata mas, mbak, bubar, pinggir, amblas, bata (boto-‘jw’), batu (watu-‘jw’), besi (wesi-‘jw’), bukankah itu semua asli berasal dari Jawa.
Berdasarkan ilustrasi yang baru saja disimak, terdapat satu hal yang dapat dijadikan benang merah untuk menjawab pertanyaan “berasal dari mana kosakata bahasa Indonesi?”. Yakni yang pertama : kosakata dalam bahasa Indonesia tidaklah berasal dari satu sumber saja, kedua : bahasa Indonesia menyerap unsur bahasa lain-terkadang dengan cara adopsi (mengambil langsung tanpa perubahan dari bahasa asal), terkadang pula dengan cara adaptasi (kata-kata yang diambil disesuakan dengan kaidah bahasa Indonesia-baik lafal maupun ejaan), selain adopsi dan adaptasi penyerapan juga dengan cara menerjemahkan (dari bahasa asal tanpa merubah makna).
Oh ya...mungkin uraian yang baru saya sampaikan terlalu teoretis sehingga membuat Anda malas untuk menyimak uraian selanjutnya, tapi jangan terburu emosi, berikut akan penulis sampaikan sedikit contoh yang mungkin akan memancing reaksi “ah masak sih”, he..he ini perkiran penulis saja!!
Sekarang pernahkah Anda bayangkan berapa besar jumlah kata serapan yang berasal dari bahasa asing,....”ah apa manfaatnya bagi ku”, mungkin demikian reaksi spontanitas Anda mendengar tantangan saya. 
Berikut sedikit contoh kosakata yang berasal dari bahasa asing yang mungkin kita tidak sangka berasal dari hasil impor , “beras kali di impor he..he”. Simak ya!
Contoh serapan dari bahasa Arab
Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya

  • abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, awal, akhir,
  • bakhil, baligh, batil, barakah,
  • daftar, hikayat, ilmu, insan, hikmah, halal, haram, hakim,
  • khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat
  • musyawarah, markas, mistar, mahkamah, musibah, mungkar, maut,
  • kitab, kuliah, kursi, kertas, nisbah, napas,
  • syariat, ulama, wajib, ziarah.
  • berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah
  • buya dari kata abuya
  • derajat dari kata darajah
  • kabar dari kata khabar
  • lafal dari kata lafazh
  • lalim dari kata zhalim
  • makalah dari kata maqalatun
  • masalah dari kata mas-alatuna
  • mungkin dari kata mumkinun
  • resmi dari kata rasmiyyun
  • soal dari kata suaalun
  • rezeki dari kata rizq
  • Sekarat dari kata Zakarotil
  • Nama-nama hari dalam sepekan : Ahad (belakangan jadi Minggu artinya=1), Senin (Isnaini=2), Selasa (Salasa), Rabu (Arba'a), Kamis (Khomsa), Jumat (Jumu'ah) dan Sabtu (sab`atun)
  • keparat dalam bahasa Indonesia merupakan kata makian yang kira-kira bersepadan dengan kata sialan, berasal dari kata kafarat yang dalam bahasa Arab berarti tebusan.
  • logat dalam bahasa Indonesia bermakna dialek atau aksen, berasal dari kata lughah yang bermakna bahasa atau aksen.
  • naskah dari kata nuskhatun yang bermakna secarik kertas.
  • perlu, berasal dari kata fardhu yang bermakna harus.
  • petuah dalam bahasa Indonesia bermakna nasihat, berasal dari kata fatwa yang bermakna pendapat hukum.
  • laskar dalam bahasa indonesia bermakna prajurit atau serdadu, berasal dari kata 'askar yang berarti sama
  • aroma (aroma)
  • arsir (arceren)
  • arsip (archief)
  • bangkrut (bankroet)
  • barak (barak)
  • baskom (waskom)
  • balsem (balsem)
  • balsem (balsem)
  • baskom (waskom)
  • bengkel (winkel): tempat kerja, arti sebenarnya sekarang adalah "toko" namun zaman dahulu adalah "sudut".
  • bensin (benzine)
  • berita (berichtenbalsem (balsem)
  • baskom (waskom)
  • bengkel (winkel): tempat kerja, arti sebenarnya sekarang adalah "toko" namun zaman dahulu adalah "sudut".
  • bensin (benzine)
  • berita (berichten)
  • golok (dolk)
  • gorden (gordijn)
  • got (goot)
  • handuk (handdoek)
  • kamar (kamer)
  • kantin (kantine)
  • impas (impasse)
  • pedal (pedaal)
  • pelopor (voorloper)
  • mihun (bihun) (米粉)
  • kucai - sejenis sayuran
  • lu (汝)
  • lumpia (lun pia) (潤餅)(春卷)
  • soto
  • algojo (algoz)
  • arena (arena)
  • armada (armada)
  • aula (aula)
  • akta (acta)
  • bangku (banco)
  • beranda (varanda)
  • bendera (bandeira
  • gancu (gancho)
  • gudang (gudão)
  • jendela (janela)
  • kaldu (caldo)
  • kampung (campo)
  • kanon (kanon)
  • kapitan (capitão)
  • karambol (carambola)
  • kartu (cartão)
  • kasur (colchão)
  • kutang (alcotão)
  • keju (queijo)
  • kereta (carreta)
  • kursus (cursos)
  • kontan (contas)
  • kamar (camara)
  • laguna (laguna)

  • lambada (lambada) : sejenis tarian
  • legenda (legenda)
  • lelang (leilão)
  • lentera (lanterna)
  • limau (limão)
  • lemari (almario)
  • lampion (lampião)
  • mandor (mandador)
  • marakas (maraca) (alat musik perkusi)
  • markisa (maracujá)
  • marmot (marmota)
  • martir (mártir)
  • meja (mesa)
  • mentega (manteiga)
  • meski (mas que)
  • Minggu (domingo): nama hari, juga dikenal sebagai Ahad
  • misa (missa) - ibadat Katolik
  • nina (spt. dalam "nina bobo") (menina): anak perempuan kecil
  • nona (dona)
  • nyonya (donha)
  • ombak (onda)
  • palsu (falso)
  • paderi (padre): pendeta
  • peluru (pellouro, boleiro)
  • pena (pena)
  • peniti (alfinete)
  • pesiar (passear)
  • pesero (parceiro)
  • pesta (festa)
  • pigura (figura)
  • pita (fita)
  • renda (renda)
  • roda (roda)
  • ronda (ronda)
  • rosario (rosario)
  • serdadu (soldado)


Lafalnya berubah, artinya tetap
Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula
Lafalnya benar, artinya berubah
· "Kalimat" dalam bahasa Indonesia bermakna rangkaian kata-kata, berasal dari bahasa Arab yang bermakna kata. 
Contoh serapan dari bahasa Belanda
Daftar Kata Serapan dari Bahasa Cina
Contoh Kata Serapan dari Bahasa Portugis
Selain bahasa Arab, Belanda, China, Portugis ternyata bahasa Indonesia juga menyerap bahasa India, Tamil, Sansekerta, Inggris dan bahasa asing lainnya. Mungkin sedikit uraian yang saya berikan dapat bermanfaat... “apa yang tidak dapat di raup seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya”.

Jumat, 04 November 2011

Peluang Bisnis Es Krim Jamu


Sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang bangsa Indonesia terkenal pandai meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam tumbuh-tumbuhan tradisional, akar-akaran, dan bahan alami yang lainnya diracik sebagai ramuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemahiran meracik bahan-bahan itu diwariskan nenek moyang kita secara turun-temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya hingga jaman kita sekarang ini.

Jamu dan obat-obatan tradisional telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu jamu, sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang hingga saat ini masih diteruskan dan dikembangkan eksistensinya. Tak disangka jamu,  yang pada awalnya hanya berbasis tradisi dan budaya secara sederhana, kini telah berkembang pesat sebagai industri modern dengan berbagai produk inovasinya, baik dari segi macam produknya, kemasannya, maupun pemanfaatannya.  Namun yang menjadi pertanyaan sekarang ini sudah seberapa jauh inovasi yang telah dilakukan produsen jamu.

Dalam upaya mengembangkan jamu untuk dapat berperan sebagai salah satu kontributor pemasok devisa negara, setidaknya ada beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan. Di antara peluang tersebut ialah dengan terus mengadakan inovasi dari  segi tampilan, produk. Inovasi dari produk jamu sedikit banyak sangat berperan besar dalam mencari peluang pasar baru. 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membuka pasar baru produk jamu ialah dengan mencitrakan  bahwa jamu ialah minuman untuk semua kalangan, bukan hanya untuk kalangan menengah ke bawah.

Usaha untuk menaikan level citra jamu salah satunya dengan mengkombinasikan produk jamu dengan produk lain. Salah satu produk yang sangat populer tidak hanya di dalam tetapi juga di luar negeri ialah es krim. Es krim merupakan minuman yang disukai baik anak, remaja, ataupun orang dewasa. Dengan alasan disukai semua kalangan dan kepopuleran produk es krim di luar negeri maka mengkombinasikan jamu dan es krim dirasa dapat diterima dan sangat rasional untuk dapat dilaksanakan.

Usaha yang dapat ditempuh untuk memopulerkan produk jamu dengan citarasa internasional ialah dengan pembuatan produk eskrim dengan variasi rasa jamu. Untuk itu usaha pembuatan es krim citarasa jamu dapat dijadikan peluang  usaha yang cukup baik untuk dikembangkan menjadi home industry

Senin, 31 Oktober 2011

Analogi dalam Bahasa Indonesia Tidak Selalu Mutlak Sifatnya


Analogi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna membuat sesuatu yang baru berdasarkan contoh yang sudah ada. Analogi dalam bahasa artinya suatu bentukan bahasa yang menirukan contoh yang sudah ada. Gejala analogi memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembinaan suatu bahasa terutama bahasa yang sedang tumbuh dan berkembang seperti bahasa Indonesia.

Di dalam bahasa Indonesia sudah lama dikenal bentuk: putra-putri, dewa-dewi. Fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata memiliki fungsi membedakan jenis kelamin benda yang disebutkan. Berdasarkan bentukan yang telah ada maka munculah bentukan baru: saudara di samping saudari, mahasiswa-mahasiswi, pemuda-pemudi dsb..

Seperti diketahui banyak pemerhati bahasa, dalam bahasa Indonesia tidak mengenal alat (bentuk gramatika) untuk menyatakan/membedakan benda-benda jenis laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin dinyatakan dengan bantuan kata lain yakni kata laki-laki (pria) dan perempuan(wanita) di belakang kata yang dimaksud, misalnya: murid laki-laki, sauadara perempuan, kakak laki-laki, dsb. Untuk binatang atau tumbuhan digunakan kata jantan dan betina, misalnya: kuda jantan, sapi betina, bunga jantan, bunga betina, dsb..

Karena unsur a dan i bukanlah asli bahasa Indonesia, maka analogi dengan unsur itu haruslah dibatasi, sekadar yang memang perlu dan tentu saja kata bentukan yang baru jangan sampai bertabrakan arti dengan kata yang sudah ada. Misalnya di samping kata ‘raja’ tidak perlu dibentuk ‘raji’ sebab sudah ada kata lain yaitu ‘ratu’. Oleh karena itu analogi dalam bahasa indonesia tidak selalu mutlak sifatnya.

Dikutip dan di parafrasekan dari buku “Pelik-pelik Bahasa Indonsia” karangan J.S. Baduduasa, dalam bahasa Indonesia tidak mengenal alat (bentuk gramatika) untuk menyatakan/membedakan benda-benda jenis laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin dinyatakan dengan bantuan kata lain yakni kata laki-laki (pria) dan perempuan(wanita) di belakang kata yang dimaksud, misalnya: murid laki-laki, sauadara perempuan, kakak laki-laki, dsb. Untuk binatang atau tumbuhan digunakan kata jantan dan betina, misalnya: kuda jantan, sapi betina,bunga jantan, bunga betina, dsb..
Karena unsur a dan i bukanlah asli bahasa Indonesia, maka analogi dengan unsur itu haruslah dibatasi, sekadar yang memang perlu dan tentu saja kata bentukan yang baru jangan sampai bertabrakan arti dengan kata yang sudah ada. Misalnya di samping kata ‘raja’ tidak perlu dibentuk ‘raji’ sebab sudah ada kata lain yaitu ‘ratu’. Oleh karena itu analogi dalam bahasa indonesia tidak selalu mutlak sifatnya.

Dikutip dan di parafrasekan dari buku “Pelik-pelik Bahasa Indonsia” karangan J.S. Badudu

Waktu Dapatkah disingkat....?


“Untuk mempersingkat waktu, marilah kita lanjutkan pada acara keempat” 
            Sering kali kita dengarkan seorang  pembawa acara atau MC mengucapkan “untuk mempersingkat waktu, marilah kita lanjutkan pada acara keempat”.  Apabila dilihat sepintas maka makna ucapan tersebut terkesan ganjil, sebab secara kaidah penalaran ungkapan tersebut terasa aneh. Mengapa demikian?
            Kesalahan pada ungkapan, “untuk mempersingkat waktu, marilah kita lanjutkan pada acara keempat” adalah penggunaan kelompok kata mempersingkat waktu. Apakah betul waktu dapat dipersingkat? Waktu tidak dapat diringkas karena rentan waktu sehari semalam sudah pasti, yakni jumlahnya 24 jam; satu jam sama dengan 60 menit; satu menit sama dengan 60 detik.  Lalu bagaimana seharusnya?
            Sikap yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kalimat tersebut ialah dengan mengganti kelompok kata untuk mempersingkat waktu dengan mengefektifkan waktu. Sebagai ilustrasi, ada sebuah acara pertemuan semula direncanakan berlangsung dua jam. Namun, karena berhubung cuaca mendung pertanda akan hujan, acara-acara pertemuan pun dipercepat. Akibatnya, acara yang seharusnya berlangsung selama dua jam diefektifkan menjadi satu jam. Jadi, perbaikan kalimat menjadi “untuk mengefektifkan waktu, kita lanjutkan pada acara keempat.
            Demikanlah sebagian contoh dari sedikit analisis kesalahan berbahasa . Seharusnya kalimat yang diucapkan atau yang dituliskan haruslah kalimat yang benar dan logis/bernalar. Artinya, kalimat tersebut harus dilandasi suatu pemikiran yang jernih, harus ditunjang oleh bahan bukti atau data yang benar. Sebaliknya, jika kalimat yang diucapkan berawal dari pemikiran yang kusut atau alasan rancu, kalimat yang lahir adalah kalimat yang salah nalar; kalimat yang salah nalar adalah kalimat yang tidak logis.

Jika COPAS harap sertakan sumber.....

Pengaruh Struktur Bahasa Asing dalam Bahasa Indonesia

“Ketidaktepatan penggunaan di mana, yang mana, hal mana, di atas mana dari mana, dengan siapa, kepada siapa,  di dalam mana dalam Konteks Bahasa Indonesia

            Dewasa ini, banyak dijumpai penggunaan kata ganti penghubung (pronomn relativum) : di mana, yang mana, hal mana, di atas mana dari mana, dengan siapa, kepada siapa,  di dalam mana. Namun tanpa kita sadari ternyata penggunaan pilihan kata tersebut  tidak dibenarkan di dalam aturan bahasa Indonesia. Mengapa demikian?

            Sebetulnya kata ganti penghubung yang telah disebutkan di awal tadi bukanlah asli struktur bahasa Indonesia, namun merupakan struktur bahasa asing yakni bahasa Belanda. Penggunaan di mana, yang mana, hal mana, di atas mana dari mana, dengan siapa, kepada siapa,  di dalam mana merupakan pengaruh inferensi bahasa Belanda waar, welke, waarop, waarvan, met wie, aan wie. Inferansi yang dimaksud di sini ialah penerapan dua sistem secara serempak pada suatu sistem bahasa.
Untuk memperjelas pembahasan perhatikan contoh di bawah ini:

1.      Rumah di mana dia tinggal tidak jauh dari pusat kota.

2.      Daerah dari mana wortel  itu di datangkan terletak jauh di perkampungan.

Sekarang perhatikan apabila struktur kalimat di atas dikembalikan kepada kalimat menurut struktur bahasa Indonesia asli:

1.      Rumah tempat dia tinggal tidak  jauh dari pusat kota.

2.      Daerah yang menghasilkan wortel  itu terletak jauh di perkampungan.

            Berdasarkan contoh di atas tampak jelas kesalahan penggunaan kata ganti penghubung di mana, yang mana,  sebab kaidah yang dipakai tidak mengacu pada aturan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia namun lebih terpengaruh struktur bahasa asing. Penggunaan kontruksi kalimat seperti yang telah diutarakan tadi sebaiknya dihindari karena kontruksi tersebut tidak bersifat Indonesia. Akhirnya, melalui tulisan ini, penulis menghimbau agar pengguna    bahasa  Indonesia,  terutama      orang-orang   yang berpengaruh dalam masyarakat menjadi contoh dan teladan  dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. 

Jika ingin copas harap sertakan sumber.....

Jumat, 12 Agustus 2011

Untuk Mu Kaum Muda

 Online…….."Hati-hati"

onlen
Siswi kelas II SMP Negeri di Sidoarjo, menghilang dari rumah keluarganya di Tangerang. Ia ditemukan oleh polisi pada Selasa (9/2/2010) dini hari di Tangerang saat bersama sang pacar yang ia kenal lewat internet. Yang mengejutkan, kepada polisi Ia mengaku telah bersebadan dengan pacarnya itu sebanyak tiga kali selama kabur. (kompas.com, 11/2/2010)
Seorang mahasiswi di Gorontalo, dipanggil polisi setelah menulis status di jaringan pertemanan Facebook. Ia dituduh  telah mencemarkan nama baik polisi. (vivanews.com, 31/1/2010)
Akibat menghina seorang guru dengan kata-kata kotor di jejaring sosial Facebook, sebanyak empat orang siswa SMA 4 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dikeluarkan dari sekolah. (kompas.com, 12/2/2010)
Seorang Ibu di Florida, Amerika Serikat merasa terganggu dengan tangisan bayinya ketika ia sibuk bermain game online dari jejaring sosial Facebook. Ia lalu membunuh bayinya sendiri dengan cara mengguncangkan badannya berkali-kali. (JPNN, 29/10/2010)
***
Internet merupakan teknologi yang kini sangat digandrungi kaum muda. Berbeda dengan menonton televisi yang bersifat pasif, melalui media internet kita bisa aktif berinteraksi, menyampaikan aspirasi melalui website atau blog, menjalin relasi melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, saling berbagi informasi di forum seperti Kaskus, atau bahkan mengeruk keuntungan dengan menjalankan bisnis secara online. Namun, seperti pisau dapur yang bisa digunakan untuk menyakiti orang lain, internet juga memiliki sisi negatif. Ia bisa digunakan untuk hal-hal buruk seperti pornografi, judi, ataupun penipuan.
Berbeda dengan dunia nyata yang menghadapi orang lain secara langsung, dalam dunia maya internet, manusia tidak merasa canggung lagi ketika berinteraksi. Hal ini sering berdampak negatif, karena pengguna internet tidak lagi memikirkan bagaimana kondisi orang yang dihadapinya di luar sana. Ia bisa dengan santai mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang lain di internet. Fenomena jejaring sosial seperti Facebook (seperti yang dikutip di awal artikel) telah menunjukkannya. Hal ini malahan bertolak belakang dengan tujuan dibuatnya situs tersebut, yaitu agar kita bisa berinteraksi kembali, menyambung silaturahmi dengan teman dan saudara secara baik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada remaja modern, adanya internet justru membuat interaksi sosial mereka di dunia nyata menjadi berkurang. Mereka menghindari pertemuan-pertemuan karena merasa lebih nyaman untuk berinteraksi via komputer, dan bahkan merasa “resah” jika meninggalkan komputer atau handphonenya sebentar saja. Perilaku ini lambat laun akan membuat mereka menjadi tidak percaya diri lagi dalam bertemu orang lain. Ia menjadi malu, tidak bisa menyampaikan pikirannya secara langsung. Ia tidak mengerti bagaimana membaca bahasa tubuh orang lain. Kepekaan sosialnya menjadi berkurang. Sehingga, akhir-akhir ini sering ditemui remaja yang terlihat sangat supel di dunia maya, namun menjadi sangat pendiam jika kita menemuinya secara langsung.
Merupakan salah satu karakteristik remaja bahwa ia ingin diakui, dianggap hebat dan “gaul” oleh lingkungan pergaulannya. Melalui internet, hal ini menjadi lebih mudah. Ia rajin mengupdate status Facebook agar dikomentari oleh teman-temannya. Apapun ia tulis, bahkan untuk hal-hal yang merupakan aib. Padahal Rasulullah mengajarkan,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia mengatakan apa saja yang diketahuinya” [H.R. Muslim].
Yang paling memprihatinkan, tidak sedikit remaja kemudian memasang fotonya dengan pakaian minim yang tidak senonoh, untuk menarik lelaki lain berinteraksi dengannya. Na’udzubillah min dzalik.
Ber-internet bahkan sudah menjadi “oksigen” bagi sebagian remaja. Ia bisa duduk seharian di depan komputer, tidak perduli dengan sekelilingnya. Asyik membuka artikel di Kaskus sampai tengah malam, dan sibuk memberikan komentar di status Facebook temannya. Saking tidak bisanya beranjak dari internet, kalau sudah bosan, tidak ada lagi yang dilakukan, ia lalu mengalihkan perhatiannya, mulai mengakses pornografi.  Inna lillaahi wa Inna ilahi raji’un….
Padahal Allah berfirman yang artinya, “Demi masa, sungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling mewasiatkan dengan kebenaran dan saling mewasiatkan dengan kesabaran. [Q.S. Al-Ashr:1-3].
Saudaraku…..
Sudahkah engkau mengalami gejala seperti diterangkan di atas? Apakah engkau menghabiskan waktumu berinternet dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, yang justru malah mendatangkan kerusakan bagi dirimu?
Jika ya, maka bertakwalah!
Jadilah hamba Allah yang bersyukur atas nikmat-Nya. Nikmat mengakses internet manfaatkanlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Kunjungilah situs-situs yang bermanfaat, yang menambah keimanan kepada Allah, yang membuatmu tahu dan mengerti mengenai Islam. Atau -jika Allah memudahkanmu- jadikanlah internet sebagai media dakwah. Engkau bisa menyampaikan kebaikan dengan menyebarkan ayat-ayat Allah dan perkataan Rasul-Nya. Kenalkan umat ini dengan para ulamanya. Sebarkanlah kebaikan Islam di dunia maya.
Namun, jangan sampai hal tersebut lalu mendominasi kehidupanmu. Ingatlah bahwa kita hidup di dunia nyata. Kita harus belajar bagaimana menghadapi orang lain di dunia nyata. Dengan berinteraksi di dunia nyata, kita akan belajar kapan harus bersabar, kapan harus mengalah, kapan harus menolong orang lain. Hal inilah yang tidak akan kita dapatkan di dunia maya.
Kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain di dunia nyata. Bergaullah dengan tetangga dengan cara yang baik. Mulailah salam kepada mereka, perhatikan mereka, tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan. Semoga Allah memudahkan kita melakukannya, karena silaturahmi dengan lingkungan terdekat sekarang ini adalah hal yang semakin jarang ditemui dalam kehidupan remaja saat ini. Kita sibuk sekolah, sibuk berteman dengan handphone dan komputer, lalu tidak memerhatikan orang-orang di sekeliling kita secara langsung.
Saudaraku…..
Manfaatkanlah waktu mudamu ini untuk hal-hal yang berguna. Masa muda adalah masa keemasan. Tenagamu sedang melimpah dan kecerdasanmu sedang berada pada puncaknya. Manfaatkanlah itu dalam wujud syukur kepada Allah, manfaatkanlah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
“Pergunakan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa pikunmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum masa matimu.” [H.R. Al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v].(Ristyandani)

Semua artikel dikutip dari majalah, website Tasfiyah

Apa Cita-Citamu ?

CITA-CITA
LIBURAN SEKOLAH. Bagi yang sudah lulus sekolahnya, sekarang mulai memikirkan  mau melanjutkan kemana. Mau kuliah ? kerja masuk pesantren ? atau masuk militer? Masing-masing pilihan merupakan sarana untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
Setiap manusia pasti memiliki cita-cita. Bila tidak, tentu dia tidak memiliki semangat hidup. Waktu kecil, ketika kita ditanyai “Mau jadi apa?” Kebanyakan dari kita biasanya menjawab, “Mau jadi tentara, mau jadi dokter, mau jadi presiden, dll” . Dalam perkembangannya, karena pengaruh pengetahuan yang semakin berkembang, cita-cita pun berubah. Anak kecil mungkin akan berubah-ubah jawabannya ketika ditanya apa cita-citanya. Beda dengan orang dewasa yang jawabannya mantap tak berubah. Kok bisa? Ya, karena cita-cita merupakan gabungan dari kemampuan dan pandangan hidup seseorang.
Anak kecil, yang kemampuannya masih berkembang dengan cepat, tentu saja cita-citanya berkembang sesuai kemampuannya. Beda dengan orang dewasa, yang sudah mulai bisa mengukur bakat dan kemampuannya, sehingga benar-benar mengerti apa yang ingin dan bisa ia capai.
Namun, kita juga sering menemui orang yang sudah cukup berumur, namun hidupnya luntang-lantung tidak jelas. Kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya, “pingin jadi orang kaya”. Sungguh jawaban yang menggelikan, ingin menjadi orang kaya tetapi tidak berusaha bekerja dengan baik. Dari sini kita bisa melihat bahwa tidak semua orang yang memiliki cita-cita bisa menggapainya. Tergantung dari usaha yang dilakukannya (tentunya setelah melalui ketetapan  Allah).
Cita-Cita Seorang Muslim
Lalu apakah cita-cita seorang muslim? Dan bagaimana usaha untuk menggapainya? Allah  berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” [QS. Ali Imran : 102]
Saudaraku…
Kita semua bukanlah hamba uang, bukan hamba ketenaran, bukan pula hamba nafsu kita sendiri. Kita semua adalah hamba Allah . Konsekuensi kita sebagai hamba (budak) adalah kita wajib melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh pemilik kita, yaitu Allah.  Dan cita-cita tertinggi bagi seorang hamba Allah adalah ia bertemu Allah dalam keadaan muslim, kemudian ia memperoleh rahmat-Nya untuk masuk ke surga-Nya.
Jika begitu, sudah semestinya seorang muslim menjadikan cita-citanya di dunia sebagai sarana untuk mencapai cita-cita tertinggi di akhirat. Misalnya kamu ingin menjadi ahli pemrograman komputer. Maka niatkanlah belajar komputer bukan hanya untuk bekerja mendapatkan uang, namun juga sebagai sarana untuk meningkatkan produktifitas dan memudahkan kaum muslimin dalam bekerja. Dan juga -semoga Allah  memudahkanmu- berusahalah agar kemampuanmu itu bisa digunakan untuk berdakwah (misal dengan membuat website dakwah, program penghitungan zakat, dll). Niatkanlah semua perbuatan yang kita lakukan sebagai ibadah kepada Allah . Rasulullah  `mengajarkan,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. [HR. Bukhori dan Muslim dari shahabat Umar bin Khaththab ]
Tidak Cukup Hanya Belajar Ilmu Dunia
Namun, untuk menggapai cita-cita akhirat, tidak cukup hanya dengan belajar ilmu dunia. Kita juga harus belajar ilmu agama secara sungguh-sungguh. Kita harus mempelajari Apa sih tauhid itu? Apa syirik itu? Lalu bagaimana dengan cara-cara ibadah rutin harian kita? Itu tidak boleh kita tinggalkan. Silahkan kamu belajar komputer, namun kewajiban belajar ilmu agama tidak boleh ditinggalkan.
Kamu mungkin berpikir, “Wah, ngapain serius belajar agama. Saya nggak mau jadi ustadz kok, saya  mau jadi programmer !”
Saudaraku….belajar agama bukan hanya untuk mereka yang akan menjadi ustadz. Kita belajar agama karena kita membutuhkannya setiap hari, bahkan setiap detik. Sebagai contoh cara kita shalat. Apakah shalat kita sudah benar? Sudah sesuai tuntunan Rasulullah ? Sudahkah kita mengerti bacaan shalat kita? Jangan sampai kita membaca sholat hanya was-wes-wos, asal baca namun tidak tahu artinya. Bagaimana sholat bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, jika kita tidak tahu artinya?
Itu tadi baru contoh kecil, bagaimana kita benar-benar membutuhkan ilmu agama dalam setiap tarikan napas kita. Karena setiap tujuan pasti membutuhkan jalan. Jalan untuk menjadi ahli komputer dengan belajar komputer. Jalan untuk menjadi dokter, tentu dengan belajar ilmu kedokteran. Jalan untuk masuk surga tentu saja dengan belajar agama.
Kita Pasti Akan Mati
Kalau kita hidup selamanya di dunia, kita bisa saja hanya belajar ilmu dunia. Tapi itu mustahil, karena setiap manusia pasti akan mati. Sehingga, hanya bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau yang lainnya tentu bukanlah pilihan yang bijak. Berusahalah untuk selalu bersungguh-sungguh dalam belajar, baik dalam belajar ilmu dunia, maupun ilmu akhirat. Apabila engkau merasa bosan dalam belajar, maka ingatlah kembali  tujuanmu dalam belajar, ”Apa cita-cita kita di dunia dan di  akhirat ?”
Semoga Allah  memudahkan kita untuk mencapai cita-cita kita.
“Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah” [ H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah ]
Wallahu a’lam bish shawab. (Ristyandani)

Hikmah Penciptaan Manusia

Adalah akhlak yang baik jika seorang muslim meninggalkan sesuatu yang sia-sia. Karena, meninggalkan kesia-siaan merupakan tanda dari kebijaksanaan seseorang. Allah  pun telah menyebutkan bahwa salah satu ciri kaum mukminin adalah berpaling dari sesuatu yang sia-sia. Allah berfirman dalam Surat Al-Mu`minun (yang artinya), “Telah beruntung orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al-Mu`minun:1] dan menyebutkan salah satu ciri mereka, “Dan dari kesia-siaan mereka berpaling.” [Q.S. Mu`minun:3]. Inilah kesempurnaan seorang hamba. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia.
Jika hal ini merupakan kesempurnaan bagi hamba, maka Rabbul ‘alamin yang telah menciptakan mereka lebih berhak menyandangnya. Allah  tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia. Segala apa yang Dia lakukan pastilah mengandung hikmah yang besar dan tujuan yang agung. Dan demikianlah yang akan kita dapatkan jika kita melihat dan berfikir terhadap alam semesta yang sungguh agung ini serta dibarengi banyak dzikir kepada Allah . Kita akan melihat bahwa segala sinergisme alam semesta dalam keteraturannya merupakan tanda yang jelas bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mampu, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui. Saat kita melihat langit yang tanpa penyangga dan bumi yang terhampar, serta kita rasakan malam yang demikian tenangnya dan siang untuk kita beraktivitas, kita akan melihat betapa agungnya ciptaan ini.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda bagi orang-orang yang pandai. Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan berdiri, duduk, dan di atas lambungnya serta mereka ber-tafakkur terhadap penciptaan langit-langit dan bumi, (mereka mengatakan), ‘Wahai Rabb kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari api neraka.’” [Q.S. Ali ‘Imran:190-191].
Ya, tiada satu pun dari ciptaan Allah yang sia-sia tanpa hikmah. Pastilah, di dalam ciptaan Allah terkandung kebijaksanaan yang luas dan agung, baik disadari oleh manusia atau tidak. Begitu pula penciptaan manusia. Allah tidak menciptakan mereka semata-mata untuk bersenang-senang, makan, minum, tanpa ada tujuan yang jelas. Tidakkah kita telaah pengingkaran Allah di dalam surat Al-Qiyamah yang artinya, “Apakah manusia mengira mereka ditinggalkan begitu saja (tanpa tujuan dan arahan)?” [Q.S. Al-Qiyamah:36]. Di dalam ayat ini, Allah  bertanya kepada manusia dalam rangka mengingkari orang-orang yang berpikir demikian.
Demikian pula limpahan nikmat yang Allah curahkan kepada kita, bahkan manusia tidak akan bisa lepas dari rahmat-Nya walaupun sekejap. Ia lah Allah  semata yang mencipta, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, membimbing, mengatur, dan yang lainnya. Fasilitas lengkap di sekitar kita yang telah Allah persiapkan untuk kesinambungan dan kelancaran hidup semua tentu untuk sebuah hikmah.
Lalu, apakah hikmah Allah menciptakan manusia? Allah telah menuangkannya di dalam Kalam-Nya:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” [Q.S. Adz-Dzariyat:56]. Inilah hikmah penciptaan manusia, untuk beribadah kepada Allah . Dalam ayat lain, Allah menyebutkan hikmah ini setelah penyebutan sebagian nikmat-Nya. Yang berarti, nikmat-nikmat itu memiliki konsekuensi, yakni mengibadahi-Nya. Allah  berfirman yang artinya, Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian, karena itu janganlah kalian Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah Padahal kalian mengetahui.” [Q.S. Al Baqarah:21,22].
Lantas, apakah ibadah itu? Ibadah bukan hanya terbatas pada shalat, puasa, dan haji. Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim Al-Harrani , “Ibadah adalah
sebuah kata yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah, mulai dari ucapan hingga perbuatan, baik yang lahiriah ataupun batiniah.” Inilah definisi ibadah. Jadi, memuliakan tamu merupakan ibadah, menolong tetangga adalah ibadah, mengucapkan ucapan yang baik pun merupakan ibadah karena Allah mmencintai itu semua, sebagaimana telah Rasul-Nya sampaikan dalam banyak hadits. Namun, tentu saja semua ini harus didasari niat ibadah kepada Allah, bukan untuk niatan dunia.
Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Maka, sebagai seorang muslim sejati, hendaknya kita jadikan tujuan ini sebagai tujuan utama hidup kita, bukan sebagai tugas sampingan yang hanya dilakukan sekedar sebagai pengesah saja. Sebaliknya, kita jadikan yang selain ini sebagai pelengkap dan penyempurna ibadah kita kepada Allah. Karena, inilah kelak yang akan menjadi penentu hidup kita yang kekal, hidup di akhirat kelak, hidup yang tak berarti lagi harta dan keturunan, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang disinari cahaya keimanan dan amalan. Allahu a’lam bish shawab. (Abdurrahman)